MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK
MEDIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN POLITIK
A. Pendahuluan
Istilah “media”
berasal dari kata Latin (tunggal: medium-ii) yang bearti sesuatu “di antara”.
Selain itu juga bermakna sesuatu yang “muncul secara publik”, “milik publik”,
atau “mediasi” dan karenanya merujuk pada sebuah ruang publik sebuah locus
publicus. Demikian esensi dari media tidak bisa dipisahkan dari persoalan
antara ranah publik dan privat, yang kerap kali problematis. Media memediasi
kedua ranah itu untuk mencari kemungkinan (atau ketidak-mungkinan) terhadap
hidup bersama. Dalam hal ini, apa yang membentuk media terentang cukup luas
mulai dari ruang fisik seperti lapangan, alun-alun, teater, dan tempat-tempat pertemuan, hingga non- fisik
seperti: surat kabar, radio, televisi, internet, dan ruang untuk interaksi
sosial. Wujud non-fisik inilah yang paling banyak dirujuk. Dengan raison ini,
tujuan adanya media adalah untuk menyediakan sebuah ruang di mana publik dapat
berinteraksi dan terlibat secara leluasa terkait hal-hal yang berkenaan dengan
keprihatinan publik. Gagasan ini bisa dilacak dari pandangan Habermas mengenai
ranah publik.
Habermas
mendefenisikan ranah publik sebagai sebuah kumpulan dari individu-individu
privat mendiskusikan hal-hal terkait keprihatinan bersama dan dengan kekuatan
media, gagasan privat bisa dengan cepat menjadi opini publik. Gagasan ini
penting tidak hanya dalam memahami bagaimana rasionalitas publik bisa
“dibentuk” dan bahwa seharusnya ada lebih banyak kehati-hatian mengenai batasan
antara ranah privat dan publik, melainkan juga memberi petunjuk bahwa apa yang
di maksud dengan “publik” selalu sangat erat kaitannya dengan politik.[1]
Relevansi terhadap gagasan ini, jika berbicara mengenai kelompok yang
terpinggirkan adalah perlindungan terhadap hak mereka sebagai bagian dari
publik. Sebagaimana ranah publik adalah sebuah arena di mana setiap warga dapat
berdiskusi, berdeliberasi, dan membentuk opini publik; kelompok-kelompok rentan
dan minoritas pun memiliki hak untuk turut ambil bagian. Untuk memastikan ranah
publik yang berfungsi baik, akses bagi
suara mereka yang terpinggirkan tentulah esensial .
B.
Isi
Media massa
memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan sosial dan kehidupan bernegara. McQuail[2] dalam
bukunya “Massa Communication Theories” mengatakan bahwa setidaknya ada enam
perspektif dalam melihat peran media. Pertama, media massa dipandang sebagai
window on events and experience. Media dipandang sebagai jendela yang
memungkinkan khalayak “melihat” apa yang sedang terjadi di luar sana ataupun
ataupun pada diri mereka sendiri. Kedua, media juga sering dianggap sebagai a
mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection.
Yaitu, cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang
merefleksikan apa adanya. Ketiga, memandang media massa sebagai filter atau
gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak.
Keempat, media
massa acap kali pula dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter,
yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian atau
alternatif yang beragam. Adapun kelima, melihat media massa sebagai forum untuk
merepresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga
memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik. Terakhir, keenam, media
massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya
informasi, tetapi juga partner
komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang interaktif.
Pengelolaan
media pada masa kini sering jauh dari ideal kepentingan publik. Meskipun
industri media memiliki ratusan karyawan yang bagus, rajin, dan berbagai
profesional, kendala struktural yang diciptakan oleh perusahaan terkadang
menjadi kendala untuk mempertemukan berbagai potensi karyawan tersebut.
Sebaliknya, media yang beragam, inovatif, substantif, dan independen karena
perubahan kondisi struktural dan perubahan srategis dalam industri media sering
menyebabkan media tersebut memiliki konten yang homogen, memberitakan hal-hal
sepele, dan membatasi ruang gerak wartawan mereka sendiri. Sebuah media membuat
kepentingan publik bila isi media mencerminkan keberagaman format dan konten.
Media tersebut menampilkan lebih banyak suara dan perspektif dari beragam
titik, yang dimasukkan dalam setiap pemberitaan.
Teori Ekonomi
Politik Media
Teori ekonomi
politik bersifat kritis, dimana teori ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuai dan menyediakan cara-cara
pengganti untuk menafsirkan peran sosial media.[3] Teori
ekonomi politik media fokus pada media massa dan budaya massa, dimana keduanya
dikaitkan dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Perkembangan
media massa yang liberal dan global mencerminkan dominannya dunia struktur
politik dan ekonomi, dan pemilik modal. Dalam era globalisasi maklumat yang
melanda negara-negara di dunia termasuk Indonesia muncul kecenderungan
organisasi media komunikasi yang lebih mementingkan aspek komersial. Ketidak
adilan media massa sebagai medium suara rakyat mendapat kecaman daripada
berbagai kelompok masyarakat.
Pendekatan
ekonomi politik pada dasarnya mengaitkan aspek ekonomi (seperti kepemilikan dan
pengendalian media), keterkaitan kepemimpinan dan faktor-faktor lain yang
menyatukan industri media dengan industri lainnya, serta dengan elit politik,
ekonomi dan sosial. Atau dalam bahasa El1iot, studi ekonomi politik media
melihat bahwa isi dan makud yang terkandung dalam dalam pesan-pesan media
ditentukan oleh dasar ekonomi dari organisasi media yang menghasilkannya.
Organisasi media komersial harus memahami kebutuhan para pengiklan dan harus
menghasilkan produk yang sanggup meraih pemirsa terbanyak.[4]
Teori ini
mengindentifikasi berbagai kendala atau hambatan yang dilakukan para praktisi
media yang membatasi kemampuan mereka untuk menantang kekuasaaan yang sedang
mapan. Dimana penguasa membatasi produksi konten yang dilakukan pekerja media,
sehingga konten media yang diproduksi tersebut kian memperkuat status quo.
Sehingga menghambat berbagai upaya untuk menghasilkan perubahan sosial yang
konstruktif. Upaya penghambatan para pemilik pemodal, bertolak belakang dengan
teoritikus ekonomi politik ini, yang justru aktif bekerja demi perubahan
sosial. Karena itu, menurut Barant para teoritikus ekonomi politik
menitikberatkan pada bagaimana proses produksi konten dan distribusi
dikendalikan. Kekuatan utama teori ini terletak pada kemampuannya dalam
menyodorkan gagasan yang dapat dibuktikan secara empiris, yakni gagasan yang
menyangkut kondisi pasar. Salah satu kelemahan aliran ekonomi politik ialah
unsur-unsur yang berada dalam kontrol publik tidak begitu mudah dijelaskan
dalam pengertian mekanisme kerja pasar bebas. Walaupun aliran memusatkan
perhatian pada media sebagai proses ekonomi yang menghasilkan komoditi (isi),
namun aliran ini kemudian melahirkan ragam aliran baru yang menarik, yakni
ragam aliran yang menyebutkan bahwa media sebenarnya menciptakan khalayak dalam
pengertian media mengarahkan perhatian khalayak ke pemasang iklan dan membentuk
perilaku publik media sampai pada batas-batas tertentu.
Ekonomi politik
adalah pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur
ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media.
(McQuail,2011:105). Melihat hal ini maka institusi media merupakan sebagai
bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan erat kepada sistem politik. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya sumber media yang independen, konsentrasi pada
khalayak yang lebih luas, menghindari risiko, dan mengurangi penanaman modal
pada tugas media yang kurang menguntungkan. Pada sisi lainnya, media juga akan
mengabaikan kepentingan khalayak potensial yang kecil dan miskin, karena
dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan terhadap kelompok masyarakat
minoritas, cenderung tidak seimbang. Barant (2011:250) menyebutnya teori
ekonomi politik media fokus pada penggunaan elite sosial atas kekuatan
ekonomi untuk mengeksploitasi institusi
media.
Ekonomi politik
media terkait dengan masalah kapital atau modal dari para investor yang
bergerak dalam industri media. Para pemilik modal menjadikan media sebagai
usaha untuk meraih untung, dimana keuntungan tersebut diinvestasikan kembali
untuk pengembangan medianya.Sehingga pengakumulasian keuntungan itu,
menyebabkan kepemilikan media semakin besar. Dalam menjalankan media,
investormempekerjakan karyawan untuk menghasilkan produk media. Untuk
mengetahui lebih jauh tentang bagaimana media memproduksi isi, mendistribusikan
sehingga bernilai ekonomis,Vincent Moscomenawarkan 3 konsep untuk mendekatinya
yakni: komodifikasi(commodification), spasialisasi(spatialization) dan
strukturasi( structuration). [5]
Komodifikasi
berhubungan dengan bagaimana proses transformasi barang dan jasa beserta nilai
gunanya menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar.
Spasialisasi, berkaitan dengan sejauh mana media mampu menyajikan produknya di
depan pembaca dalam batasan ruang dan waktu. Pada aras ini maka struktur
kelembagaan media menentukan perannya di dalam memenuhi jaringan dan kecepatan
penyampaian produk media di hadapan khalayak. Strukturasi berkaitan dengan
relasi ide antar agen masyarakat, proses sosial dan praktik sosial dalam
analisis struktur. Strukturasi dapat digambarkan sebagai proses dimana struktur
sosial saling ditegakkan oleh para agen sosial, dan bahkan masing-masing bagian
dari struktur mampu bertindak melayani bagian yang lain. Hasil akhir dari
strukturasi adalah serangkaian hubungan sosial dan proses kekuasaan
diorganisasikan di antara kelas, gender, ras dan gerakan sosial yang
masing-masing berhubungan satu sama lain.
C.
Kesimpulan
Ekonomi politik
adalah pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur
ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media. Melihat hal ini
maka institusi media merupakan sebagai bagian dari sistem ekonomi dengan
hubungan erat kepada sistem politik. Hal ini mengakibatkan berkurangnya sumber
media yang independen, konsentrasi pada khalayak yang lebih luas, menghindari
risiko, dan mengurangi penanaman modal pada tugas media yang kurang menguntungkan.
Pada sisi lainnya, media juga akan mengabaikan kepentingan khalayak potensial
yang kecil dan miskin, karena dinilai tidak menguntungkan. Kemudian pemberitaan
terhadap kelompok masyarakat minoritas, cenderung tidak seimbang. Barant
menyebutnya teori ekonomi politik media fokus pada penggunaan elite sosial atas
kekuatan ekonomi untuk mengeksploitasi institusi media.
Kebijakan
pemberitaan suatu media tidak terlepas dari kepentingan pemilik dan ekonomi
politik media yang ditempuhnya. Sehingga sangat dimaklumi, bila media saat ini
mengalami komersialisasi yang luar biasa. Media menempatkan audience
semata-mata hanya dilihat sebagai pasar, bukan warga negara (citizens). Tujuan
utama dari dibentuknya media adalah meraih keuntungan untuk pemilik dan para
pemangku kepentingan lainnnya. Dengan demikian fungsi media sebagai penyampai
beragam gagasan-gagasan, informasi, pendidikan, dan integrasi sosial yang
merupakan inti dari ketersediaan ruang publik, semakin terkesampingkan dengan kepentingan
komersialisasi.
Daftar Pustaka
Baran, Stanley J & Davis Dennis, K. 2010. Teori Komunikasi
Massa: Dasar, Pergolakan, Dan Massa Depan. Selemba Humanika. Jakarta.
Habermas, Jurgen. 1984. The Theory Of Communicative Action:
Reason And The Rationalization Of Society. Beacon Press.
McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa Mcquail, Edisi
6 Buku 1. Selemba Humanika. Jakarta.
Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy Of Communication.
Sage. London.
Sudibyo, Agus. 2000. Absennya Pendekatan Ekonomi Politik Media.
Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. ISSN 1,410-4946. Vol 4. No 2.
[1]
Jurgen Habermas.
The Theory Of Communicative Action: Reason And The Rationalization Of
Society. Beacon Press. 1984
[2]
Denis Mcquail. Teori
Komunikasi Massa Mcquail, Edisi 6 Buku 1. Jakarta: Selemba Humanika. 2011.
[3]
Stanley J Baran.
Davis Dennis.K. Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, Dan Massa Depan.
Jakarta: Selemba Humanika. 2010.
[4]
Agus Sudibyo. Absennya
Pendekatan Ekonomi Politik Media. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. ISSN
1,410-4946. Vol 4. No 2. 2000.
[5]
Vincent Mosco. The
Political Economy Of Communication. Sage. London. 2009.
Komentar
Posting Komentar